Jumat, 4 Desember, 2020
Informasi Damai

Artikel Edukasi Damai

Suara Kita

Ulama, Antara Tugas Keummatan dan Kebangsaan

Ulama memiliki dua tugas sekaligus: tugas keummatan serta tugas kebangsaan. Dalam diri ulama seharusnya kedua ...
Read more 0
Suara Kita

Ulama, Guru Bangsa Pemersatu Nusantara

Kalau kita kuliti lembar demi lembar sejarah nasional, maka kita akan menemukan banyak peran dan ...
Read more 0
Suara Kita

Ulama: Guru Bangsa Penjaga NKRI

Dalam kajian historikal atas bangsa ini, peran dan komitmen para ulama untuk memperjuangkan kemerdekaan sekaligus ...
Read more 0
Suara Kita

Ulama sebagai Influencer Pemersatu Bangsa

Dinamika kebangsaan sangat erat dengan figur dan peran ulama. Pemikiran, keberpihakan, dan ajaran ulama akan ...
Read more 0
Suara Kita

Menjadi Ulama, Menjadi Teladan Beragama dan Berbangsa

Belakangan ini kita tengah diramaikan dengan berbagai persoalan terkait keberagamaan dan kebangsaan kita. Salah satunya ...
Read more 0
Suara Kita

Harmoni Agama dan Bangsa dalam Dakwah Habib Luthfi bin Yahya

“Jika Anda kehilangan emas, bisa dibeli di toko emas.  Jika Anda kehilangan kekasih, tahun depan ...
Read more 0
Suara Kita

Cintailah Negaramu, Sebagaimana Kamu Mencintai Agamamu!

Ada sebagian “ulama” di era kontemporer saat ini yang sering menyerukan semacam “fatwa” bahwa mencintai ...
Read more 0
Teladan Keagamaan dan Kebangsaan KH. Ahmad Dahlan
Suara Kita

Teladan Keagamaan dan Kebangsaan KH. Ahmad Dahlan

Sebagian umat Islam di negeri ini terlihat kehilangan arah dan tujuan dalam menjalankan kehidupan berbangsa ...
Read more 0
Ulama Su’, No; Ulama Sejuk, Yes!
Suara Kita

Ulama Su’, No; Ulama Sejuk, Yes!

Ulama memang tidak semuanya lurus, mencerahkan, meneduhkan, mencerdaskan dan dapat menjadi teladan bagi umat. Dalam ...
Read more 0
Wayang dan Dakwah Substansial
Suara Kita

Wayang dan Dakwah Substansial

Wayang pada dasarnya merupakan warisan budaya yang sifatnya terbuka, dapat maknai dan digunakan untuk apapun ...
Read more 0
Pada tanggal 21 September 2020 kemarin, sempat viral di jagat maya. Karena ada seorang Habib yang bernama Habib Salim Almansyur. Mencaci, memarahi dan bahkan memukul wajah seorang ustadz yang bernama Ustadz Hasan. Beliau dipukul dengan sepatu yang digunakannya. Hal ini dilatari oleh “buntut masa” pada saat pemilu tahun 2019 kemarin. Karena di sosial media saling sindir satu sama lainnya. Lalu ada yang “membakar api provokasi” tersebut sehingga Habib tersebut marah. Dan pada saat ustadz tersebut berusaha untuk islah dan mengklarifikasi agar bisa damai. Namun, respons Habib tersebut justru tidak mengenakkan dan melakukan tindakan yang sangat disayangkan sekali. Bahkan putrinya juga ikut campur dengan menyirami ustadz tersebut dengan air sambil memaki-maki. Karena ayahnya “seorang Habib” yang harus dihormati. Dalam kasus yang sama, baru-baru ini yang masih cukup panas. Perseteruan Nikita Mirzani dan Ustadz Maheer At-Thuwailibi. Bagaimana Nikita mencoba untuk mengomentari akan kepulangan Habib Rizieq ke Indonesia yang baginya justru hanya bikin kericuhan dan kebencian di mana-mana. Tentu, sontak Ustadz Maheer marah, mencaci dan bahkan tidak segan-segan mengancam Nikita Mirzani. Karena bagi Ustadz Maheer, sungguh tidak pantas “menghina seorang Habib” karena itu akan murka, musyrik dan tidak akan dapat pengampunan dosa. Beragam cacian yang menyakitkan terus dilontarkan kepada Nikita Mirzani. Dua fenomena ini, mulai memperlihatkan di satu sisi “label” kemuliaan seorang habaib atau cicit Nabi yang sepantasnya harus dihormati, disayangi dan bahkan dimuliakan. Tentu sangat benar kita wajib untuk menghormatinya. Tetapi tidak dengan “perilakunya” yang semena-mena dan tidak sesuai dengan akhlak Nabi beserta ucapannya. Sebagaimana garis keturunan Nabi yang harus membentang ke dalam dirinya yang seharusnya pula merefleksikan akan kebaikan dan keramahan-nya. Point ini bukan lantas mendukung seorang Nikita Mirzani yang sejatinya juga akan menyulut provokasi, karena menghina seorang Habib. Pun juga dengan seorang ustadz yang sabar dan mengalah ketika dipukuli, disirami dan bahkan dicaci karena dianggap tidak menghormati seorang Habib. Akan tetapi, point kita saat ini adalah tentang “label” seorang Habib yang sangat mulai dan dijadikan sandungan pembenar untuk melakukan apa saja dan seenaknya. Bahkan memukul dan mencaci orang yang dianggap rendah. Seperti Gus Dur yang dikatakan “buta hatinya” dan “Buta matanya” oleh Habib Rizieq dan itu pantas dilakukan dengan alasan karena dia seorang Habib? Atau keturunan Nabi Muhammad SAW? Jika Habib Rizeq dikritik akan perilakunya. Sehingga, dia menggunakan “label” Habib sebagai senjata untuk menyatakan akan hal itu dianggap menghina seorang Habib? Terang-benderang dari polemik yang semacam ini perlu ada semacam “pemahaman etis”. Bahwa sepantasnya, sewajibnya dan seharusnya seorang Habib yang menyandang gelar keturunan Rasulullah SAW. Mampu menjadi (teladan yang baik) dengan cara menasihati jika ada yang salah, keliru dan menyimpang. Bukan mencaci, menyakiti dan bahkan melakukan tindakan kekerasan dan semaunya. Habib adalah seorang ulama yang garis keturunannya langsung ke Rasulullah SAW, yang sejatinya harus (mencerminkan) segala aspek di dalam berdakwah yang santun, mudah memaafkan, bertutur yang baik dan berperilaku yang sesuai dengan Rasulullah SAW.
Suara Kita

Meneladani Habib Sebagai Ulama yang Berakhlak Seperti Nabi Muhammad SAW

Pada tanggal 21 September 2020 kemarin, sempat viral di jagat maya. Karena ada seorang Habib ...
Read more 0
Kriminalisasi Ulama atau Ulama (yang) Kriminal?
Suara Kita

Kriminalisasi Ulama atau Ulama (yang) Kriminal?

Akhir-akhir ini ada narasi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat yang menyatakan bahwa ulama banyak dikriminalisasi ...
Read more 0
Basis Teladan Ulama; Dari Ruh Keimanan Hingga Kecintaan Terhadap Tanah Air
Suara Kita

Basis Teladan Ulama; Dari Ruh Keimanan Hingga Kecintaan Terhadap Tanah Air

Tidak pernah kita bosan untuk mengutip, menganalisis dan bahkan menjadikan sebagai teladan bagi kita semua. ...
Read more 0
Ulama Rausyan Fikr: Figur Teladan Keislaman dan Keindonesiaan
Suara Kita

Ulama Rausyan Fikr: Figur Teladan Keislaman dan Keindonesiaan

Ulama memiliki posisi strategis baik dalam konteks keislaman maupun keindonesiaan. Dalam konteks keislaman, ulama memiliki ...
Read more 0
Ulama itu Mencerahkan, Bukan Meresahkan
Suara Kita

Ulama itu Mencerahkan, Bukan Meresahkan

Ulama adalah pewaris nabi. Artinya, ia merupakan sosok yang mengemban amanah berat, yakni memiliki visi ...
Read more 0