Jumat, 23 Januari, 2026
Informasi Damai

Artikel Edukasi Damai

Setiap peradaban besar mempunyai titik tolak dan momentum yang diperingati yang dikenal dengan sistem kalender. Kalender Gregorian adalah yang identik dengan umat Nasrani dan paling umum dikenal secara internasional diperkenalkan Paus Gregorius XIII pada tahun 1582 yang mengawali pada 1 Januari. Bangsa Yahudi dengan kalender Ibrani mengenal tahun baru Rosh Hashanah. Ada juga peradaban Tionghoa berbasis siklus bulan yang dikenal dengan Imlek. Ada pula Kalender Persia yang dikenal sebagai Kalender Iran dengan tahun baru yang disebut Nowruz. Dan tentu saja, peradaban Islam yang dikenal dengan tahun baru Hijriyah, dimulai bulan Muharram. Kenapa Islam akhirnya memutuskan harus mempunyai sistem kalender dan peringatan yang harus diperingati setiap tahun? Bukankah Nabi tidak mengajarkannya? Pertama tentu kita tidak boleh berasumsi Islam dengan ijtihad pemikiran dan kebudayaannya sudah selesai ketika Nabi wafat. Banyak sekali tantangan dan kebutuhan yang harus dilalui dan dilampaui umat Islam. Inovasi, kreasi dan kebaruan bukan bid’ah yang tabu dalam memajukan Islam. Adalah Khalifah Umar bin Khattab yang berinisiatif agar umat Islam mempunyai sistem penanggalan yang jelas karena ketiadaan catatan waktu dari dokumen untuk keperluan admistratif pemerintahan. Dipanggillah tokoh-tokoh untuk mendiskusikan sistem kalender dan awal mula tahun dalam Islam. Singkat kata, Islam mengawali pada momentum perpindahan dari Makkah ke Madinah yang dikenal hijrah. Sistem kalender ini pun dikenal dengan Tahun Hijriyah. Bukan merujuk pada sistem kalender Romawi, Persia dan sebagainya. Bukan pula merujuk pada kelahiran atau wafatnya Nabi. Pilihan cerdas umat Islam adalah momentum hijrah. Jenius dan tepat sekali ketika kalender Islam disandarkan pada momentum hijrah. Setiap tahun umat Islam diingatkan untuk kembali mengambil pesan dan semangat perpindahan mentalitas dan pemikiran dari kejumudan, fanatisme, dan kebencian menuju semangat komunitas Madinah yang dinamis, toleran, terbuka dan yang paling penting terikat dalam persaudaraan. Hijrah Nabi ke Madinah bukan sekedar pelarian dan pencarian suaka politik sebagaimana hijrah sebelumnya. Hijrah kali ini berbeda. Ada misi penyelamatan umat dari cengkraman penyiksaan kaum Qurays sekaligus misi perdamaian di Madinah sebagaimana permintaan para suku-suku yang selalu terlibat pertikaian di sana. Maka, yang paling sukses dan teringat dari hijrah ini adalah ikatan persaudaraan Madinah. Membangun sebuah peradaban yang diikat dengan tali persaudaraan. Tidak ada lagi kekerasan, kebencian dan ekslusifitas, tetapi semua berada dalam naungan konsitusi yang disusun dan diperjanjikan bersama. Sangat brilian apa yang dilakukan Rasulullah dengan gerakan hijrah dan membangun Madinah. Tidak ada yang merasa tersisihkan. Pendatang tidak mengalahkan pribumi. Perbedaan suku dan agama bukan halangan untuk saling melindungi. Negara dengan ide demokrasi yang pada saat bersamaan daratan lain masih bermegah-megah dengan sistem kekaisaran dan kerajaan. Dan tentu saja, tidak mengherankan ketika sahabat Umar, sang Khalifah dan mujtahid ini, tidak diragukan memilih momentum hijrah sebagai penanda awal tahun baru Islam. Bukan tanpa makna dan pesan. Umar tentu saja ingin umat Islam generasi berikutnya yang belum mengalami peristiwa hijrah mampu merasakan energi dan sensasi hijrah. Apa pesannya? Umat Islam diajak untuk melakukan muhasabah. Intropeksi dan refleksi. Meninggalkan kebiasaan penuh dendam, benci dan permusuhan menuju semangat saling bersaudara. Selamat Tahun Baru Islam, Mari Perkokoh Persaudaraan Kebangsaan Kita.
Narasi

Menghargai Keberagaman dan Membangun Persatuan

Indonesia, sebagai negara yang kaya akan keberagaman, telah lama dikenal sebagai rumah bagi berbagai suku, ...
Read more 0
Photo 2025 12 11 12.15.44
Narasi

Peran Negara dalam Menjamin Kerukunan dan Mendorong Partisipasi Sipil

Dalam sebuah negara yang majemuk seperti Indonesia, kerukunan antarwarga dan partisipasi aktif masyarakat dalam kehidupan ...
Read more 0
Membangun Ketahanan Nasional Melalui Moderasi Beragama
Narasi

Membangun Ketahanan Nasional Melalui Moderasi Beragama

Ketahanan nasional bukan hanya soal kekuatan fisik atau militer, tetapi juga mencakup stabilitas sosial, harmoni ...
Read more 0
Kembang Sore: Antara Tuhan dan Kehidupan
Kebangsaan

Kembang Sore: Antara Tuhan dan Kehidupan

Dzating manungsa luwih tuwa tinimbang sifating Allah —Ronggawarsita. Syahdan, di wilayah Magetan dan Madiun, ...
Read more 0
Meletakkan Simbolisme dalam Prinsip Agama Bermaslahat
Narasi

Meletakkan Simbolisme dalam Prinsip Agama Bermaslahat

Semakin ke sini, agama semakin hadir dengan wajah yang sangat visual. Mulai dari gaya busana, ...
Read more 0
Ketika Bencana Datang, Waspada Banjir Narasi Pecah Belah di Tengah Duka Bangsa
Narasi

Ketika Bencana Datang, Waspada Banjir Narasi Pecah Belah di Tengah Duka Bangsa

Di tengah rumah yang runtuh, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, dan tangis pengungsian yang belum ...
Read more 0
Benarkah Moderasi Beragama adalah Agenda Sekularisasi dan Anti-Islam?
Narasi

Peran Anak Muda dalam Kampanye Moderasi: Membangun Toleransi di Era Digital

Di tengah arus informasi yang begitu deras dan polarisasi yang semakin menguat, kehadiran suara moderat ...
Read more 0
Tiga Tips Memilih Pesantren yang Steril Radikalisme 
Narasi

Pesantren Melawan Fanatisme untuk Kerukunan

Di tengah lanskap disrupsi digital yang ditandai oleh tsunami informasi dan fragmentasi wacana, institusi pendidikan ...
Read more 0
Islam Kasih dan Pluralitas Agama dalam Republik
Narasi

Menggali Arah Keberagamaan Milenial

Indonesia adalah negara dengan kekayaan keberagaman yang luar biasa, baik dari segi agama, suku, maupun ...
Read more 0
Merawat Bumi sebagai Keniscayaan, Melawan Ekstremisme sebagai Kewajiban!
Narasi

Merawat Bumi sebagai Keniscayaan, Melawan Ekstremisme sebagai Kewajiban!

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi dua persoalan besar yang sama-sama mendesak: kerusakan lingkungan dan ...
Read more 0
Banjir Hoax dan Kebencian; Bagaimana Kaum Radikal Mengeksploitasi Bencana Untuk Mendelegitimasi Negara?
Narasi

Banjir Hoax dan Kebencian; Bagaimana Kaum Radikal Mengeksploitasi Bencana Untuk Mendelegitimasi Negara?

Banjir di Sumatera dan Aceh sudah mulai menunjukkan surut di sejumlah wilayah. Namun, banjir yang ...
Read more 0
Membangun Kesalehan Ekologis Berbasis Kearifan Lokal Nusantara
Narasi

Membangun Kesalehan Ekologis Berbasis Kearifan Lokal Nusantara

Banjir di Sumatera dan Aceh adalah bukti bagaimana pendekatan dalam memanfaatkan alam dan lingkungan yang ...
Read more 0
Mengapa Solidaritas Ekologis Sulit Tumbuh dalam Masyarakat Beragama?
Narasi

Mengapa Solidaritas Ekologis Sulit Tumbuh dalam Masyarakat Beragama?

Di tengah serangkaian bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, muncul satu ...
Read more 0
Pernahkah Membela Ayat-ayat Kauniyah yang Dinistakan?
Narasi

Pernahkah Membela Ayat-ayat Kauniyah yang Dinistakan?

Pernahkah Anda merenung sejenak di tengah keheningan malam? Ada sebuah ironi besar yang luput dari ...
Read more 0
Jihad Santri Zaman Now: Impelementasi Resolusi Jihad Kekinian
Narasi

Santri dan Moderasi : Menjawab Tantangan Sosial dan Ekologis

Santri sering dipersepsikan secara simplistik hanya sebagai penjaga tradisi, tekun mengaji di pesantren, dan hidup ...
Read more 0