Sabtu, 16 Mei, 2026
Informasi Damai
Narasi

Narasi

Vaksinasi Ideologi; Kembali ke Budaya Luhur yang Anti-Kekerasan

Vaksinasi Ideologi; Kembali ke Budaya Luhur yang Anti-Kekerasan
Narasi
Sastrawan dan wartawan Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia mengidentifikasi ciri manusia Indonesia ke dalam sejumlah karakter. Antara lain, munafik, tidak bertanggung jawab, feodal, percaya takhayul, artistik dan lemah karakternya. Barangkali itu hanyalah bentuk sinisme dari seorang Mochtar Lubis. Namun, jika dilihat dalam kacamata yang obyektif, identifikasi itu bisa jadi ...
Read more 0

Terorisme : Memperalat Nama Tuhan untuk Tindakan Kekerasan dan Kejahatan

Kekerasan telah menjadi budaya sebagian masyarakat dalam menyelesaikan persoalan. Tidak jarang, kekerasan juga dijustifikasi dengan mengeksploitasi ajaran agama. Panggung kekerasan terorisme acapkali membajak agama sebagai pembenarannya. Agama memang tidak mengajarkan kekerasan. Namun, pada akhirnya agama menjadi korban fitnah atas perilaku oknum umat beragama yang menjadikan agama sebagai alat pembenaran. Kenapa agama kerap dijadikan alat untuk kekerasan? Agama merupakan puncak keyakinan tertinggi yang dipegang secara teguh dan militan para penganutnya. Memperalat agama sebagai pembenaran menjadi efektif untuk mendorong seseorang secara emosional untuk bertindak. Kejahatan terbesar kelompok teroris adalah bukan hanya menimbulkan korban melalui panggung kekerasannya, tetapi juga karena memperalat agama sebagai alat pembenaran. Mereka membelah masyarakat pada lawan dan kawan atas dasar pembenaran agama. Bagi mereka lawan dalam term agama harus dimusnahkan dan halal darahnya. Membawa agama dalam ranah kejahatan merupakan puncak kejahatan tertinggi. Mereka memperalat ayat Tuhan untuk perilaku yang melebihi tindakan setan. Mereka berdiri seolah membela Tuhan, padahal sejatinya sedang memperalat nama Tuhan untuk sebuah tindakan kejahatan. Bagaimana mungkin bisa dikatakan umat beragama hanya karena berteriak nama Tuhan lalu melakukan tindakan kekerasan. Mereka seolah bangga dengan membela agama padahal sejatinya telah melakukan kerusakan di muka bumi. Mereka seolah paling dekat dengan Tuhan tetapi sejatinya adalah musuh Tuhan. Terorisme lahir dari sebuah cara pandang mempolitisasi agama untuk tujuan politik. Karakteristik inilah yang paling dominan kita jumpai dalam sebuah atraksi kekerasan teror. Sejarah telah mencatat bagaimana tragedi kemanusiaan terbesar pernah terjadi karena agama dijadikan alat untuk membenarkan tindakan kekerasan. Mengembalikan Fungsi Agama Agama apapun lahir sebagai panduan kolektif manusia agar lebih beradab dalam membangun kebudayaannya. Agama termasuk Islam dengan seperangkat keyakinan dan ritual sakral yang dilakukan bertujuan menumbuhkan moral kolektif sebagai alat kontrol manusia. Agama ingin memanusiakan manusia agar tidak jatuh dalam sifat hewan buas yang memangsa antar satu dengan lainnya. Di sinilah agama sejatinya bukan tujuan, tetapi sarana untuk mencapai hakikat manusia yang berTuhan. Karena itulah, dalam agama apapun terdapat pedoman agar manusia hidup damai dalam berdampingan. Agama mengajarkan tentang kedamaian, kebahagiaan dan cinta kasih. Agama tidak mentolerir praktek permusuhan, kekerasan, intimidasi, apalagi pemusnahan melalui teror. Jika yang terjadi adalah kekerasan atas nama agama tentu ada kesalahan besar umat beragama dalam mempraktekkan agamanya. Bukan kesalahan agama, tetapi kesalahan mereka dalam mengekspresikan keagaman. Karena itulah, memoderasi cara beragama menjadi penting agar tidak mudah jatuh dalam praktek ekstrem dalam beragama. Sejatinya, karakter agama adalah moderat, hanya saja ada oknum umat beragama yang melakukan radikalisasi terhadap ajaran agama. Kekerasan atas nama agama merupakan hasil dari kelompok yang meradikalisasi ajaran agama. Akibatnya, tindakan kekekerasan seolah menjadi benar dalam pandangan mereka. Mengembalikan agama pada karakter yang moderat menjadi keniscayaan agar agama menjadi sumber perdamaian, bukan sumber permusuhan.
Narasi
Kekerasan telah menjadi budaya sebagian masyarakat dalam menyelesaikan persoalan. Tidak jarang, kekerasan juga dijustifikasi dengan mengeksploitasi ajaran agama. Panggung kekerasan terorisme acapkali membajak agama sebagai pembenarannya. Agama memang tidak mengajarkan kekerasan. Namun, pada akhirnya agama menjadi korban fitnah atas perilaku oknum umat beragama yang menjadikan agama sebagai alat pembenaran. Kenapa ...
Read more 0

Urgensi Lima Vaksinasi Ideologi BNPT untuk Mereduksi Kultur Kekerasan

Urgensi Lima Vaksinasi Ideologi BNPT untuk Mereduksi Kultur Kekerasan
Narasi
Beberapa hari ini, ruang publik digital kita heboh oleh sederet peristiwa memilukan. Mulai dari kasus pembubaran ibadah umat Kristen di Gereja Kemah Daud, di Lampung, peristiwa penganiayaan remaja, sampai kerusuhan di Wamena, Papua. Sederet peristiwa itu menandai masih langgengnya kultur kekerasan di tengah masyarakat. Pembubaran ibadah merupakan kekerasan struktural yang ...
Read more 0

Melindungi Minoritas dan Umat yang Berbeda

Melindungi Minoritas dan Umat yang Berbeda
Narasi
Hanya Islam agama di sisi Tuhan. Islam satu-satunya agama yang sah dalam pandangan-Nya (QS. Ali Imran: 19). Semua umat Islam meyakini dan mengklaim: hanya agama Islam yang benar. Lainnya salah. Inilah tauhid yang harus diimani tanpa keraguan. Penganut agama yang lain memiliki prinsip yang sama: hanya agamanya yang benar. Lainnya ...
Read more 0

Kebal Virus Radikal dengan 5 Vaksin BNPT

Kebal Virus Radikal dengan 5 Vaksin BNPT
Narasi
Mikroorganisme virus radikalisme-terorisme dan intoleransi di Indonesia sejatinya tidak stagnan ke dalam satu “inang”. Memiliki ragam sistem saluran infeksi, seperti; menginfeksi spirit kebangsaan-nya agar hilang. Menginfeksi pola beragama, lalu menjadi eksklusif dan menghilangkan moralitas seseorang menjadi radikal, brutal dan zhalim. Di sinilah letak pentingnya 5 vaksin BNPT yang telah disosialisasikan ...
Read more 0

Politik Gaya Khawarij : Membela Agama Kedok Halus Politisasi Agama

Politik Gaya Khawarij : Membela Agama Kedok Halus Politisasi Agama
Narasi
Politik identitas bukanlah hal baru di Indonesia. Sebut saja, dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada 2019 lalu juga terendus banyaknya praktek politik identitas sebagai lanjutan success story dari kontestasi politik di Pilgub DKI. Isu penistaan agama terus digoreng secara massif oleh kelompok tertentu dengan target kepentingan politik. Tidak murnia ...
Read more 0

Menolak Politik Identitas Berarti Mencegah Radikalisme

Menolak Politik Identitas Berarti Mencegah Radikalisme
Narasi
Kita mungkin bertanya-tanya, apa kaitannya politik identitas dengan radikalisme? Kalau kita pahami secara orientasi, politik identitas itu bersifat destruktif atas keragaman. Sedangkan radikalisme, memang sejak dulu menginginkan keragaman itu hancur. Dari konsep di atas, kita bisa memahami satu pola. Bahwa, politik identitas ini sebetulnya adalah “benih” dari radikalisme. Maka, dari ...
Read more 0

2024 : Stop Politisasi Rumah Ibadah untuk Kepentingan Politik!

2024 : Stop Politisasi Rumah Ibadah untuk Kepentingan Politik!
Narasi
Secara kalkulasi politik, masjid (rumah ibadah) sangat potensial dijadikan sebagai tempat kampanye terselubung dengan memanfaatkan mimbar agama yang ada. Pengalaman kita dalam beberapa kali menyelenggarakan Pemilu pasca Reformasi membenarkan asumsi atau hipotesis di atas. Pada umumnya, politisasi rumah ibadah itu dilakukan oleh sejumlah tokoh agama yang secara elektoral dekat atau ...
Read more 0

Politik Identitas Berlawanan Prinsip Kebhinekaan : Belajar dari Pilgub DKI 2017 dan Pemilu 2019

Politik Identitas Berlawanan Prinsip Kebhinekaan : Belajar dari Pilgub DKI 2017 dan Pemilu 2019
Narasi
Tahun 2024 merupakan tahun Politik Pemilu sebagai ruang kontestasi politik serentak. Nuansa kontestasi sudah mulai terasa pada tahun ini. Berbagai manuver partai politik dan calon pemimpin sudah dijalankan. Namun, satu hal yang perlu diingatkan bahwa kepentingan politik praktis jangan sampai merusak kebhinekaan dan persatuan masyarakat melalui permainan politik identitas. Negara ...
Read more 0

Jihad Politik di Masjid untuk “Ummat”?

Jihad Politik di Masjid untuk “Ummat”?
Narasi
Suatu ketika pemuda itu dengan semangat berapi-api menegaskan akan membangun perjuangan dari masjid sebagaimana Rasulullah SAW melakukan setelah hijrah. Ia akan menjadikan masjid sebagai ruang jihad politik. Bukan merinding mendengarnya, tetapi menggelikan. Masjid, menurutnya, bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga jadi pusat tempat akupansi ide dan juga etalase gagasan. Di ...
Read more 0