Media Distancing dan Puasa Medsos di Masa Pandemi Corona

Media Distancing dan Puasa Medsos di Masa Pandemi Corona

- in Suara Kita
786
0
Media Distancing dan Puasa Medsos di Masa Pandemi Corona

“Virus ini menyerang hati dan jiwa sebelum pernapasan dan paru-paru. Gua merasa baikan setelah ‘social media distancing’ hari kedua di RS. Socmed itu ICU raksasa. Runtuh mental semua orang kalau digempur berita COVID-19. Drop imunitas”. Rangkaian kalimat itu viral sebagai pesan berantai melalui WhatsApp beberapa waktu lalu. Penulisnya ialah Bima Arya, Walikota Bogor yang dinyatakan positif Covid-19. Ia bercerita bagaimana dirinya melawan Covid-19 dengan mengambil jarak dengan medsos (medsos).

Dengan menghindari medsos, ia merasa kondisinya membaik. Kecemasan dan kepanikan akibat banjir informasi tentang Covid-19 yang kebanyakan bernada kecemasan dan perlahan hilang, berganti dengan optimisme untuk sembuh. Di titik ini, kita lantas teringat akan pesan filosof muslim Ibnu Sina, yakni “kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan ialah separuh obat dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan”.

Apa yang dilakukan Bima Arya itu tentu bisa dilakukan oleh masyarakat umum yang tidak terpapar Corona. Selain menghadapi bahaya penularan Corona, masyarakat juga dihadapkan pada dampak negatif masifnya penyebaran berita tentang Corona di medsos yang potensial memantik kecemasan berlebih. Ini artinya, banjir informasi tentang Corona itu tidak kalah berbahayanya ketimbang ancaman virus Corona itu sendiri.

Sisi Kelam Medsos

Medsos dengan berbagai platform-nya memang menawarkan keasyikan tersendiri bagi pemakainya. Di medsos, kita dimungkinkan saling berinteraksi, bertukar informasi sekaligus membagikan hal-hal yang bersifat personal maupun urusan publik. Medsos juga menjadi kanal baru bagi penyebaran informasi yang disajikan oleh media massa mainstream.

Namun, medsos juga menyimpan sisi negatif yang berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Seperti kita lihat, selama ini medsos telah menjadi kanal penyebaran hoaks yang dibuat oleh pihak-pihak tertentu. Penyebaran hoaks paling masif di medsos, khususnya di Indonesia terjadi pada momen Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 dan Pilpres tahun 2019 lalu.

Di tengah suasana pandemic Corona ini pun demikian. Ketika kita membuka akun medsos kita hari-hari belakangan ini, nyaris semua tema perbincangan mengarah pada isu Corona. hal itu tentu wajar mengingat isu Corona tengah menjadi fenomena global yang menyita perhatian seluruh masyarakat dunia. Sayangnya, perbincangan tentang Corona di medsos cenderung lebih banyak mengarah pada kecemasan dan kepanikan ketimbang mengedepankan sisi edukatif. Sulit sekali mencari postingan di medsos ihwal Corona yang mengajak publik berpikir rasioal dan proporsional dalam menghadapi pandemi Corona.

Baca Juga : Wabah Corona dan Pentingnya Jurnalisme Empati

Sebaliknya, lini masa medsos kita setiap harinya penuh dengan tulisan dan tautan berita yang akhirnya justru membuat publik panik, takut dan cemas. Padahal, tiga hal (panik, takut, cemas) itulah yang harus kita hindari oleh masyarakat di masa pandemi Corona ini. Seperti dikatakan Bima Arya, “runtuh mental semua orang kalau digempur berita COVID-19. Drop imunitas”. 

Terlebih di hari-hari belakangan ini, ketika medsos riuh oleh postingan tentang lockdown atau karantina wilayah yang dilakukan oleh sejumlah masyarakat pedesaan dan pinggiran kota di Yogyakarta yang lantas menjalar ke sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Fenomena karantina wilayah atau local lockdown yang dilakukan masyarakat perkampungan dengan cara menutup akses jalan keluar-masuk kampung bagi orang luar itu lebih merupakan puncak dari rasa panik, takut dan cemas yang berlebihan.

Dengan alat seadanya seperti bambu dan kayu, mereka menutup akses jalan desa tanpa perencanaan yang matang. Cepat atau lambat, hal ini akan berdampak pada relasi sosial antarmasyarakat itu sendiri. Bukan tidak mungkin lockdown lokal yang dilakukan oleh masyarakat perkampungan itu akan berdampak serius pada aktivitas masyarakat terutama di bidang perekonomian.

Ditutupnya jalan masuk kampung bagi masyarakat luar tentu berdampak pada profesi-profesi seperti penjual makanan keliling, jasa antar paket, tukang ojek, dan profesi lainnya. Ini artinya, lockdown lokal yang dilakukan tanpa perencanaan matang, terburu-buru dan dilatari oleh ketakutan massal yang tersaji di medsos justru tidak akan menyelesaikan masalah, alih-alih berpotensi menimbulkan masalah baru. Potensi gesekan dan konflik sosial akibat prakktik serampangan ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Di titik ini harus diakui bahwa kepanikan massal akibat serbuan berita tentang Corona yang membanjiri ruang publik virtual kita terbukti sama berbahayanya dengan serangan virus Corona itu sendiri.

Swasensor, Menhindari Kepanikan

Di tengah pandemi Corona yang entah kapan akan berakhir ini, pilihan kita atas berita yang kita baca dan sebarkan akan berpengaruh, bukan hanya bagi diri pribadi kita, namun juga orang-orang di sekeliling kita dan seluruh umat manusia. Makin sering kita mengkonsumsi berita-berita tentang Corona yang memantik kecemasan dan ketakutan, bisa dipastikan kondisi psikologis kita akan mengalami kelelahan. Akibatnya, imunitas kita pun perlahan akan menurun dan dengan sendirinya rentan terserang virus, tidak hanya Corona namun juga virus-virus lain.

Begitu pula, semakin sering kita berinteraksi di medsos mengenai isu Corona, besar kemungkinan kita akan tersandera ke dalam semacam narasi besar tentang Corona yang boleh jadi belum teruji kebenaran dan kesahihannya. Akibat buruk dari perilaku yang demikian ini ialah potensi kita melakukan tindakan-tindakan yang dilandasi oleh emosi sesaat ketimbang pertimbangan rasional. Fenomena lockdown ala masyarakat perkampungan adalah contoh nyata bagaimana masyarakat mengambil langkah-langkah secara serampangan akibat kepanikan yang memuncak. Mereka bahkan tidak menganalisa dampak buruk dan jangka panjang dari kebijakan menutup akses keluar-masuk perkampungan tersebut.

Mengambil jarak sementara dengan media massa (mass media distancing) dan melakukan puasa medsos kiranya bisa menjadi pilihan terbaik dalam masa-masa penuh kesimpangsiuran ini. Media distancing dan puasa medsos tentu tidak diartikan sebagai upaya tidak mau tahu tentang berita atau informasi tentang Corona. Alih-alih itu, media distancing dan puasa medsos lebih ditujukan untuk membentengi kesehatan psikologis dan imunitas fisik kita dari serangan berita-berita palsu dan tendensius seputar Corona.

Kita tentu tetap dianjurkan untuk mengakses media massa, baik cetak, elektronik maupun digital (online). Namun, kita diwajibkan untuk melakukan self-cencorship (swasensor) terhadap berita-berita yang berpotensi menstimulasi syaraf amygdala dalam otak kita untuk menebarkan kecemasan, kepanikan dan ketakutan. Swasensor itu diperlukan agar informasi ihwal Corona yang kita konsumsi benar-benar berasal dari sumber yang ilmiah, otoritatif dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Di samping itu, membatasi interaksi di medsos kiranya juga menjadi pilihan terbaik saat ini. Terlebih ketika medsos lebih banyak menimbulkan ketegangan syaraf ketimbang memberikan hiburan dan pencerahan. Medsos yang telah keruh oleh narasi-narasi kepanikan sudah barang tentu tidak sehat untuk kondisi psikologis dan fisik kita. Puasa medsos yang dilakukan oleh Bima Arya semasa menjalani masa karantina mandiri akibat positif Covid-19 kiranya bisa menjadi contoh dalam hal ini. Masa pandemi Corona ini memang masa-masa sulit. Pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat umum memikul beban yang sama beratnya. Diperlukan kerjasama seluruh elemen bangsa agar beban itu bisa sama-sama kita pikul. Sebagai masyarakat umum, peran kita sebenarnya cukup mudah, yakni dengan menjalani anjuran pemerintah soal physical distancing dan menjaga imunitas tubuh termasuk menjaga kondisi psikologis agar tetap stabil. Poin terakhir itu kiranya bisa diwujudkan dengan melakukan media distancing dan puasa medsos untuk beberapa waktu.

Facebook Comments