Indonesia dengan prinsip Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika selalu diklaim secara justifikasi kategoris, sebagai negara Darul Kufr “Negara Kafir”. Anggapan ini kokoh dengan dalih apologies bahwa bangsa ini dianggap tidak menjalankan hukum syariat agama. Lantas, apakah benar Indonesia masuk kategori sebagai negara kafir? Atau masuk kategori Darussalam Negeri Keselamatan? Kalau kita amati, penilaian “negara kafir” atas bangsa ini sebetulnya bukan mengacu terhadap konteks hukum secara fungsional. Tetapi, ini mengacu ke ...
Read more 0 Saiful Bahri
Saiful Bahri Posts
Saya selalu mengatakan bahwa, segala bentuk pijakan spiritual itu pasti memiliki (sublimasi). Sebab, segala bentuk nilai religiositas pada dasarnya tak pernah stagnan ke dalam wilayah transenden-imanen saja. Seperti Ramadan dan Nyepi. Kita sebetulnya tak sekadar melihat perbedaan dalam ranah spiritualitas antara keduanya. Tetapi, kita bisa perlu melihat sublimasi nilai yang mendasar di dalamnya. Tentu perannya bagi peradaban sosial di tengah keragaman. Tentu Saya sepakat bahwa dalam pelataran teologis, setiap agama ...
Read more 0 Di dalam kehidupan bernegara, makar pada dasarnya bersifat ingin merusak tatanan yang ada. Melakukan pemberontakan atas pemerintahan yang sah secara hukum. Ingin menghancurkan kehidupan masyarakat yang sudah tertata dan penuh kezhaliman. Makar memiliki ragam tipu-daya muslihat. Mereka bersembunyi di balik dalih ketidakadilan dan perjuangan mengatasnamakan rakyat. Seperti layaknya komplotan Makar KKB di Papua itu. Kalau kita mengacu terhadap perspektif teologis, larangan Makar pada dasarnya tidak hanya ada di dalam Islam. ...
Read more 0 Shirin Ebadi merupakan perempuan muslim pertama asal Iran yang menerima penghargaan Nobel perdamaian pada tahun 2003. Dia adalah teladan bagi para perempuan muslim. Untuk berani memperjuangkan kemanusiaan, hak perdamaian dan menolak segala eksploitasi hukum agama dalam memperalat perempuan. Sebagaimana yang kita lihat hari ini, kiprah perempuan muslim seakan “dibungkam”. Beragam alasan yang diskriminatif, bahwa perempuan hanya perlu mendekam di rumah. Sebab, suara perempuan dianggap aurat dan tak perlu berperan di ...
Read more 0 Dalam kurun waktu satu tahun ke depan, kita mungkin akan melihat panasnya gemuruh peperangan politik 2024. Kita tahu, kontestasi politik tidak sekadar melahirkan dialog-dialog argumentatif. Panasnya politik 2024 tampaknya akan banyak melahirkan “pelarian” yang kita kenal politik identitas. Gejala yang semacam ini sering-kali kita temukan di mimbar-mimbar agama. Maka, hal yang penting bagi kita saat ini adalah membersihkan reputasi mimbar agama itu. Persaingan politik lewat ceramah keagamaan yang berakhir ke ...
Read more 0 Dalam pelataran sosiologis, kita perlu menjernihkan dua istilah antara “Negara Islam” dengan “Negara Islami”. Keduanya merupakan entitas-fungsional yang sangat berbeda. Kita kerap terkecoh dengan propaganda menegakkan “negara Islam” seperti khilafah itu. Secara orientasi-substansial, negara Islam bukan sebuah ajaran, melainkan “istilah politis”. Sebab agama tidak memiliki doktrin formal yang semacam itu. Sedangkan negara yang “Islami” mengacu ke dalam wilayah moralitas dan rasa bernegara yang meniscayakan nilai-nilai Islam tanpa “embel-embel” negara Islam. ...
Read more 0 Jika kita datang ke suatu Masjid. Lalu, ada seorang pengkhotbah/penceramah di hadapan kita. Berdiri tegak di mimbar kehormatan. Membawa narasi ceramah yang memecah-belah umat. Lantas, tindakan apa yang harus kita lakukan? Bolehkah kita memprotes hal demikian? Tentu, pertanyaan di atas, sebetulnya mengacu ke dalam satu kondisi. Apakah kita akan membiarkan umat teracuni dengan ceramah yang semacam itu? Kasus penceramah pemecah-belah pernah dijumpai oleh Direktur Eksekutif Jaringan Moderat, yaitu Islah Bahrawi. ...
Read more 0 Berbicara tentang etnis Tionghoa, mereka seakan-akan dianggap bukan bagian dari bangsa Indonesia. Orde baru telah menjadi “benalu” gerakan sentiment anti-etnis Tionghoa. Hingga sampai detik ini, berbagai macam tuduhan seperti tuduhan komunis dan anti-agama selalu disematkan atas mereka. Ini adalah cara pandang yang sifatnya “reduksionis”. Berupaya menghilangkan keragaman dengan basis menghilangkan peran-kontribusi etnis Tionghoa di negeri ini. Padahal, mereka sangat berperan dalam perjuangan bangsa dan berperan dalam membangun Islamisasi tanah Jawa. ...
Read more 0 Di media sosial, misuh bukan lagi sesuatu yang kurang elok untuk dilontarkan. Dia telah menjadi budaya sekaligus kebiasaan. Beberapa pihak “membenarkan” hal demikian sebagai pola komunikasi yang menunjukkan bentuk “kedekatan emosional”. Pengaruhnya tentu, terhadap anak-anak usia dini. Sebab, banyak kasus yang Saya temui, perihal seorang anak yang memisuhi orang tuanya karena kesal. Mereka tidak peduli siapa-pun yang dia hadapi. Aktivitas memisuh pada dasarnya akan melahirkan semacam sikap “tak tahu batas”. ...
Read more 0 Jagat media sosial kali ini dihebohkan dengan peristiwa hijaunya tanah Arab di daerah pegunungan Makkah dan Jeddah. Wilayah dengan ciri khas padang pasir itu telah berubah menjadi hijau karena dipenuhi dengan beragam tumbuhan yang hidup subur. Fenomena ini melahirkan berbagai macam asumsi tentang tanda-tanda kiamat. Lalu dikaitkan dengan pentingnya menegakkan khilafah di akhir zaman. Tentu, sebagai muslim dengan kadar iman yang tak pernah kaku, Saya tidak sepakat dalam hal itu. ...
Read more 0