Kamis, 1 Desember, 2022
Informasi Damai

Artikel Edukasi Damai

Kejahatan Bertopeng Agama adalah Musibah Terbesar Manusia
Keagamaan

Kejahatan Bertopeng Agama adalah Musibah Terbesar Manusia

Kejahatan terbesar dalam sejarah manusia adalah kejahatan yang bertopeng agama. Kenapa? Mereka yang melakukan tindakan ...
Read more 0
Seruan Jihad Membela Tanah Air
Kebangsaan

Seruan Jihad Membela Tanah Air

Pahlawan telah menyerahkan segalanya dengan berkorban pikiran, harta dan jiwa demi kemashlahatan bersama. Bukan sekedar ...
Read more 0
Keagamaan

Kenapa Agama Menggiurkan untuk Dieksploitasi Demi Kepentingan Politik?

Kenapa agama mudah dimanfaatkan dalam kepentingan politik yang bisa menimbulkan konflik? Memang tidak ada keributan ...
Read more 0
Dari Intoleransi ke Radikal, Bagaimana Menyembuhkan?
Keagamaan

Dari Intoleransi ke Radikal, Bagaimana Menyembuhkan?

Persoalan kekerasan, anarkisme dan bahkan terorisme bukan sebuah tindakan yang tiba-tiba. Semua tindakan memiliki motif ...
Read more 0
Memang ada segelintir orang yang memiliki warisan paham yang menganggap Indonesia sebagai negara kafir, thagut dan tidak Islami. Narasi ini sangat berbahaya karena implikasinya mendudukkan negara ini sebagai negeri perang. Tidak jarang pada akhirnya muncul terorisme dengan cita-cita ideologis mengganti dasar negara. Mungkin tidak perlu saya debatkan secara ideologis tentang dasar negara ini islami atau tidak. Pentolan mantan ideologi kelompok radikal terorisme, Abu Bakar Ba’asyir, ada akhirnya mengakuti keselarasan antara Pancasila dengan tauhid. Namun, fakta tak terbantahkan adalah kondisi sosiologis keislaman di Indonesia. Indonesia menjadi negara dengan jumlah masjid terbanyak di dunia. Dengan jumlah penduduk muslim di Indonesia sebanyak 237,53 juta jiwa per 31 Desember 2021, Indonesia memiliki kurang lebih 800.000 masjid di berbagai daerah. Lima provinsi dengan masjid terbanyak sebagai berikut Lampung (12.000 masjid), Sulawesi Selatan (14.313 masjid), Jawa Timur (48.947 masjid), Jawa Tengah (50.549 masjid) dan Jawa Barat (58.979 masjid). Selain itu, ditinjau dari sisi kebijakan pemerintah, tidak ada rekayasa yang menyulitkan umat Islam di Indonesia untuk mendirikan masjid. Bahkan bisa jadi masjid yang dibangun tidak berizin pun atas nama pribadi, keluarga dan masyarakat di kampung-kampung juga banyak ditemukan. Dan bayangkan hampir seluruh provinsi dan kabupaten di Indonesia memiliki masjid agung sebagai penanda sebuah wilayah. Lepas dari penjajahan, apa yang dipikirkan oleh pemimpin bangsa ini salah satunya adalah berdirinya sebuah masjid. Masjid Istiqlal diprakarsai oleh negara sebagai simbol implementasi Indonesia yang berdasarkan kepada Ketuhanan. Bayangkan ada masjid negara yang dibuat langsung oleh Presiden. Lalu, Indonesia dianggap negara kafir? Dalam aspek kebijakan lainnya, tidak pernah ada larangan dalam perayaan keagamaan khususnya Islam. Bahkan hari-hari besar Islam diperingati sebagai hari libur nasional. Bahkan beberapa peritsiwa penting seperti Maulid Nabi, Israk Mikraj dan Tahun baru Islam menjadi peringatan yang tidak hanya diperingati di tengah masyarakat tetapi peringatan di Istana Negara. Negara mana yang menyelenggarakan secara nasional dan diresmikan oleh negara beberapa kegiatan keislaman yang tidak hanya hari raya besar keisalaman saja? Bahkan nuzulul quran saja diperingati secara nasional dan diselenggarakan oleh negara. Negara juga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya tidak hanya pada aspek hari-hari besar, bahkan pengajian, majlis taklim dan tabligh akbar bebas menguasai ruang-ruang publik di Indonesia. Kemeriahan dzikir juga banyak bertebaran di berbagai pelosok negeri yang sejatinya tidak akan pernah ditemukan di negara Islam seperti Timur Tengah sekalipun. Karena itulah, menjadi tidak logis bahkan sangat menyesatkan jika Indonesia dianggap negara kafir. Negara kafir berarti negara yang tidak memberikan ruang dan kebebasan kepada umat Islam. Negara kafir berarti negara yang secara nyata ingin memerangi umat Islam. Sebutan ini sejatinya akan melukai umat Islam itu sendiri yang secara nyata telah menjadi bagian dari negara ini. Dengan melihat kebebasan dan kenyamanan yang ada, sungguh negara ini sejatinya adalah negara Islam dengan label Pancasila. Pancasila menjadi perekat bagi keragaman dengan nafas Islam yang sangat kental. Islam menjadi ruh dari negara ini dalam merawat perdamaian.
Narasi

Haruskah Negeri dengan Ribuan Masjid Dikafirkan?

Memang ada segelintir orang yang memiliki warisan paham yang menganggap Indonesia sebagai negara kafir, thagut ...
Read more 0
Pada tahun ini, tepatnya 15 Maret Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Internasional untuk MemerangIslamophobia (The Internasional Day to Combat Islamophobia). Ketetapan PBB tersebut dilandasi atas dasar masih banyaknya muslim yang menjadi korban diskriminasi, persekusi hingga pelecehan atas nama agama, khususnya di dunia Barat dan negara minoritas Muslim. Ketidaktahuan dan stigma negatif terhadap Islam memunculkan islamofobia dalam bentuk pikiran hingga tindakan. Umumnya, Islamofobia muncul di negara-negara Barat yang kurang memahami Islam secara utuh. Mereka mengetahui Islam dari perilaku oknum umat Islam yang mengatasnamakan Islam dalam setiap tindakan kekerasan. Lekat sekali pada akhirnya Islam seolah mendukung terorisme akibat media Barat yang memframing Islam sebagai penyebab utama. Keberadaan oknum-onum muslim yang bertindak mengatasnamakan Islam dengan tindakan kekerasan seolah menjadi cara Barat melihat ajaran Islam dan umat Islam secara keseluruhan. Karena itulah, harus dipahami bahwa islamofobia muncul karena ketidaktahuan dan kurangnya berbaur antar lintas agama. Ada perasaan curiga dan dendam memunculkan ketakutan dan kebencian terhadap Islam. Di beberapa negara, upaya menghapus islamofobia dilakukan dengan silaturrahmi dan kerjasama lintas agama untuk mematahkan persepsi dan prasangka salah tentang Islam. Di Indonesia tentu berbeda dengan negara Barat yang masyarakatnya kurang banyak mengenal Islam. Indonesia negara muslim terbesar di mana muslim menguasai ruang dan fasilitas publik di berbagai daerah. Dari area oflline penyiaran hingga dunia maya, orang mengenal dan berinteraksi dengan Islam. Justru kadang ada umat non muslim yang sudah terbiasa mengucapkan : assalamualaikum, masyallah, astghfirullah karena Islam sudah menjadi identitas inheren dalam masyarakat Indonesia. Namun, bukan berarti Indonesia tidak berpotensi tumbuh Islamofobia. Islamofobia muncul karena prasangka ketidaktahuan dan saling memahami di dalam perbedaan. Selain itu, upaya mengeneralisir pelaku dan oknum kriminal berdasarkan agama. Itulah akar islamofobia belajar dari negeri Barat. Jika masyarakat Indonesia justru mengeraskan sikap intoleran dikhawatirkan ada jarak antara muslim dan non muslim yang menghambat saling mengenal dan menghormati. Gerakan Anti Islamofobia di Indonesia sejatinya harus diarahkan pada gerakan untuk menanamkan toleransi dan saling mengenali (tasamuh dan taaruf). Tentu gerakan anti islamofobia bukan untuk memunculkan peneguhan identitas yang ekslusif apalagi dipolitisasi hanya untuk kepentingan kelompok sesaat. Gerakan Anti Islamofobia jangan justru menjadi gerakan yang justru menakutkan karena akan terkesan ekslusif. Gerakan melawan Islamofobia adalah gerakan santun untuk membuktikan Islam yang sebenarnya. Bukan gerakan yang hanya pandai menyalah-nyalahkan kondisi yang sudah harmoni seperti di Indonesia. Gerakan anti Islamofobia harus diarahkan kepada dua hal. Pertama, diarahkan kepada umat Islam untuk mengajak memamerkan Islam yang sebenarnya penuh kesantunan yang jauh dari stigma Barat tentang kekerasan. Kedua, diarahkan kepada non muslim untuk meyakinkan Islam adalah agama yang bersahabat bukan agama yang merusak. Gerakan anti Islamofobia harus bermula dari mengurangi politik identitas yang kerap menjual agama. Itulah esensi gerakan Anti Islamofobia yang harus digalakkan. Jangan sampai gerakan ini hanya ditunggangi oleh kepentingan politik yang hanya menjadikan isu islamofobia sebagai dagangan politik menarik simpati umat. Semakin politik identitas dijual semakin memperlebar potensi islamofobia.
Faktual

Islamofobia Berawal dari Maraknya Politik Identitas

Pada tahun ini, tepatnya 15 Maret Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari ...
Read more 0
“Tepo Seliro”: Basis Kultural Membendung Arus Ideologi Transnasional
Narasi

“Tepo Seliro”: Basis Kultural Membendung Arus Ideologi Transnasional

Istilah tepo seliro memang berasal dari sosiologi masyarakat Jawa. Namun demikian, spirit tepo seliro sebenarnya ...
Read more 0
Melestarikan Wayang untuk Membendung Ideologi Transnasional
Narasi

Melestarikan Wayang untuk Membendung Ideologi Transnasional

Kalau kita kuliti sejarah perkembangan Islam di Nusantara, wayang tak hanya merupakan karya seni kearifan ...
Read more 0
Kearifan Lokal Penangkal Paham Radikal
Narasi

Kearifan Lokal Penangkal Paham Radikal

Indonesia adalah ejawantah dari kebhinekaan, dan bertolak dari kebhinekaan ini muncul persatuan, jadi dari sejak ...
Read more 0
Apakah Kearifan Lokal Bertentangan dengan Syariat Islam?
Narasi

Apakah Kearifan Lokal Bertentangan dengan Syariat Islam?

Ada fenomena, di mana ideologi trans-nasional mencoba membenturkan kearifan lokal dengan syariat Islam. Seraya, prinsip-prinsip ...
Read more 0
Belajar dari Suku Bajo: Menjadikan Toleransi sebagai “idealisme Hidup”
Narasi

Belajar dari Suku Bajo: Menjadikan Toleransi sebagai “idealisme Hidup”

Pada hakikatnya, segala ideologi trans-nasional akan tumbang dan rapuh ketika berhadapan dengan sikap dan kesadaran ...
Read more 0
Menjadi Manusia Indonesia; Perkuat Kearifan Lokal, Tangkal Ideologi Transnasional
Narasi

Menjadi Manusia Indonesia; Perkuat Kearifan Lokal, Tangkal Ideologi Transnasional

Di tengah gempuran arus ideologi transnasional dalam dua dekade belakangan ini, kita dipaksa untuk menegaskan ...
Read more 0
Selametan; Modal Sosial Menangkal Ideologi Transnasional
Narasi

Selametan; Modal Sosial Menangkal Ideologi Transnasional

Gelombang arus ekspansi ideologi transnasional adalah ancaman nyata bagi kebinekaan Indonesia. Ideologi transnasional dengan ajarannya ...
Read more 0
Peran Strategis Budaya Samin Menangkal Ideologi Trans-nasional
Narasi

Peran Strategis Budaya Samin Menangkal Ideologi Trans-nasional

Jika kita amati, budaya Samin tampaknya memiliki porsi yang sangat strategis dalam menangkal ideologi trans-nasional. ...
Read more 0
Dolanan Anak: Kearifan Lokal dan Media Edukatif Mencegah Radikalisme Sejak Dini
Narasi

Dolanan Anak: Kearifan Lokal dan Media Edukatif Mencegah Radikalisme Sejak Dini

Perkembangan teknologi komunikasi sebagai bagian dari globalisasi yang terjadi dalam beberapa dekade belakangan telah berhasil ...
Read more 0