Kamis, 30 April, 2026
Informasi Damai

Artikel Edukasi Damai

Geliat Islamisme Di Ranah Pendidikan Nasional, Kemajuan Atau Kemunduran?
Kebangsaan

Geliat Islamisme Di Ranah Pendidikan Nasional, Kemajuan Atau Kemunduran?

Mendengar istilah islamisme, bagi sebagian orang mungkin terasa ganjil. Islam sendiri, tanpa adanya sufiks isme, ...
Read more 0
Karakter Ashabul Fitnah yang Memecah Persatuan Sebuah Bangsa
Kebangsaan

Karakter Ashabul Fitnah yang Memecah Persatuan Sebuah Bangsa

Adalah Prof. Dr. Taufiq Al-Buthi yang pernah memberikan testimoni menggetarkan tentang kondisi negaranya, Suriah, yang ...
Read more 0
Islam adalah agama yang moderat. Dalam Al-qur’an Surat Ali Imran ayat 19 Allah Swt. Berfirman: إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰمُ ۗ وَمَا ٱخْتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْعِلْمُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلْحِسَابِ “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” Agama yang moderat yakni ajaran yang menghindari ekstrimisme, berprinsip pada keadilan dan kebaikan terhadap seluruh makhluq Allah Swt. dengan tetap berpegang teguh pada norma dan nilai ketauhidan. Jadi, agama islam adalah agama yang tidak terlalu longgar namun juga tidak terlalu ketat. Islam adalah agama yang luwes mengisi tiap relung kehidupan masyarakat sebagai bentuk hubungan baik antara hamba dengan Allah Swt (hablumminallah). Implementasi moderasi beragama tidak bisa dilakukan serta merta. Diperlukan kerjasama antara masyarakat khususnya dari lingkup yang paling kecil yakni keluarga. Terlebih di era sekarang dimana indoktrinasi paham takfiri maupun liberalisasi telah meretas melalui berbagai bentuk media. Generasi islam dihadapkan pada gelombang tsunami informasi yang tidak semuanya valid. Kebanyakan adalah kabar bohong (hoaks) yang bertujuan untuk menciptakan ketakutan, kebencian dan kecurigaan terhadap satu sama lain. Oleh karenanya, keluarga menjadi sekolah pertama dan utama bagi seorang anak untuk mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang sehat, yakni pola asuh yang membantunya tumbuh menjadi generasi islam moderat. Keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenali semenjak seorang bayi dilahirkan ke dunia. Baik atau buruk seorang anak yang bertumbuh dipengaruhi oleh bagaimana pola asuh yang dia dapatkan dari keluarganya. Keluarga yang menerapkan prinsip moderasi beragama akan melahirkan generasi yang moderat dalam berpikir, bertutut dan bersikap. Terkait signifikannya pengaruh keluarga dalam tumbuh kembang anak, Rasulullah saw bersabda dalam salah satu haditsnya yang masyhur sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim: حَدَّثَنَا حَاجِبُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ عَنْ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ثُمَّ يَقُولُا أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ { فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ } الْآيَةَ Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hajib bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harb dari Az Zubaidi dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Sa'id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah, dia berkata;
Narasi

Menanamkan Prinsip Moderat di Tengah Keluarga

Islam adalah agama yang moderat. Dalam Al-qur’an Surat Ali Imran ayat 19 Allah Swt. Berfirman: ...
Read more 0
Pada tahun ini, tepatnya 15 Maret Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Internasional untuk MemerangIslamophobia (The Internasional Day to Combat Islamophobia). Ketetapan PBB tersebut dilandasi atas dasar masih banyaknya muslim yang menjadi korban diskriminasi, persekusi hingga pelecehan atas nama agama, khususnya di dunia Barat dan negara minoritas Muslim. Ketidaktahuan dan stigma negatif terhadap Islam memunculkan islamofobia dalam bentuk pikiran hingga tindakan. Umumnya, Islamofobia muncul di negara-negara Barat yang kurang memahami Islam secara utuh. Mereka mengetahui Islam dari perilaku oknum umat Islam yang mengatasnamakan Islam dalam setiap tindakan kekerasan. Lekat sekali pada akhirnya Islam seolah mendukung terorisme akibat media Barat yang memframing Islam sebagai penyebab utama. Keberadaan oknum-onum muslim yang bertindak mengatasnamakan Islam dengan tindakan kekerasan seolah menjadi cara Barat melihat ajaran Islam dan umat Islam secara keseluruhan. Karena itulah, harus dipahami bahwa islamofobia muncul karena ketidaktahuan dan kurangnya berbaur antar lintas agama. Ada perasaan curiga dan dendam memunculkan ketakutan dan kebencian terhadap Islam. Di beberapa negara, upaya menghapus islamofobia dilakukan dengan silaturrahmi dan kerjasama lintas agama untuk mematahkan persepsi dan prasangka salah tentang Islam. Di Indonesia tentu berbeda dengan negara Barat yang masyarakatnya kurang banyak mengenal Islam. Indonesia negara muslim terbesar di mana muslim menguasai ruang dan fasilitas publik di berbagai daerah. Dari area oflline penyiaran hingga dunia maya, orang mengenal dan berinteraksi dengan Islam. Justru kadang ada umat non muslim yang sudah terbiasa mengucapkan : assalamualaikum, masyallah, astghfirullah karena Islam sudah menjadi identitas inheren dalam masyarakat Indonesia. Namun, bukan berarti Indonesia tidak berpotensi tumbuh Islamofobia. Islamofobia muncul karena prasangka ketidaktahuan dan saling memahami di dalam perbedaan. Selain itu, upaya mengeneralisir pelaku dan oknum kriminal berdasarkan agama. Itulah akar islamofobia belajar dari negeri Barat. Jika masyarakat Indonesia justru mengeraskan sikap intoleran dikhawatirkan ada jarak antara muslim dan non muslim yang menghambat saling mengenal dan menghormati. Gerakan Anti Islamofobia di Indonesia sejatinya harus diarahkan pada gerakan untuk menanamkan toleransi dan saling mengenali (tasamuh dan taaruf). Tentu gerakan anti islamofobia bukan untuk memunculkan peneguhan identitas yang ekslusif apalagi dipolitisasi hanya untuk kepentingan kelompok sesaat. Gerakan Anti Islamofobia jangan justru menjadi gerakan yang justru menakutkan karena akan terkesan ekslusif. Gerakan melawan Islamofobia adalah gerakan santun untuk membuktikan Islam yang sebenarnya. Bukan gerakan yang hanya pandai menyalah-nyalahkan kondisi yang sudah harmoni seperti di Indonesia. Gerakan anti Islamofobia harus diarahkan kepada dua hal. Pertama, diarahkan kepada umat Islam untuk mengajak memamerkan Islam yang sebenarnya penuh kesantunan yang jauh dari stigma Barat tentang kekerasan. Kedua, diarahkan kepada non muslim untuk meyakinkan Islam adalah agama yang bersahabat bukan agama yang merusak. Gerakan anti Islamofobia harus bermula dari mengurangi politik identitas yang kerap menjual agama. Itulah esensi gerakan Anti Islamofobia yang harus digalakkan. Jangan sampai gerakan ini hanya ditunggangi oleh kepentingan politik yang hanya menjadikan isu islamofobia sebagai dagangan politik menarik simpati umat. Semakin politik identitas dijual semakin memperlebar potensi islamofobia.
Faktual

Islamofobia Berawal dari Maraknya Politik Identitas

Pada tahun ini, tepatnya 15 Maret Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari ...
Read more 0
Prinsip Mencegah Intoleransi dalam Islam
Keagamaan

Prinsip Mencegah Intoleransi dalam Islam

Pada hari Jumat (3/9/21) telah terjadi perusakan Masjid Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang terletak di ...
Read more 0
Menerka Gerakan Islamisme Pasca Jokowi
Analisa

Menerka Gerakan Islamisme Pasca Jokowi

Istilah islamisme berkaitan dengan konsep dan gerakan yang mendambakan kebangkitan kembali kejayaan Islam dalam seluruh ...
Read more 0
“Tepo Seliro”: Basis Kultural Membendung Arus Ideologi Transnasional
Narasi

“Tepo Seliro”: Basis Kultural Membendung Arus Ideologi Transnasional

Istilah tepo seliro memang berasal dari sosiologi masyarakat Jawa. Namun demikian, spirit tepo seliro sebenarnya ...
Read more 0
Melestarikan Wayang untuk Membendung Ideologi Transnasional
Narasi

Melestarikan Wayang untuk Membendung Ideologi Transnasional

Kalau kita kuliti sejarah perkembangan Islam di Nusantara, wayang tak hanya merupakan karya seni kearifan ...
Read more 0
Kearifan Lokal Penangkal Paham Radikal
Narasi

Kearifan Lokal Penangkal Paham Radikal

Indonesia adalah ejawantah dari kebhinekaan, dan bertolak dari kebhinekaan ini muncul persatuan, jadi dari sejak ...
Read more 0
Apakah Kearifan Lokal Bertentangan dengan Syariat Islam?
Narasi

Apakah Kearifan Lokal Bertentangan dengan Syariat Islam?

Ada fenomena, di mana ideologi trans-nasional mencoba membenturkan kearifan lokal dengan syariat Islam. Seraya, prinsip-prinsip ...
Read more 0
Belajar dari Suku Bajo: Menjadikan Toleransi sebagai “idealisme Hidup”
Narasi

Belajar dari Suku Bajo: Menjadikan Toleransi sebagai “idealisme Hidup”

Pada hakikatnya, segala ideologi trans-nasional akan tumbang dan rapuh ketika berhadapan dengan sikap dan kesadaran ...
Read more 0
Menjadi Manusia Indonesia; Perkuat Kearifan Lokal, Tangkal Ideologi Transnasional
Narasi

Menjadi Manusia Indonesia; Perkuat Kearifan Lokal, Tangkal Ideologi Transnasional

Di tengah gempuran arus ideologi transnasional dalam dua dekade belakangan ini, kita dipaksa untuk menegaskan ...
Read more 0
Selametan; Modal Sosial Menangkal Ideologi Transnasional
Narasi

Selametan; Modal Sosial Menangkal Ideologi Transnasional

Gelombang arus ekspansi ideologi transnasional adalah ancaman nyata bagi kebinekaan Indonesia. Ideologi transnasional dengan ajarannya ...
Read more 0
Peran Strategis Budaya Samin Menangkal Ideologi Trans-nasional
Narasi

Peran Strategis Budaya Samin Menangkal Ideologi Trans-nasional

Jika kita amati, budaya Samin tampaknya memiliki porsi yang sangat strategis dalam menangkal ideologi trans-nasional. ...
Read more 0
Dolanan Anak: Kearifan Lokal dan Media Edukatif Mencegah Radikalisme Sejak Dini
Narasi

Dolanan Anak: Kearifan Lokal dan Media Edukatif Mencegah Radikalisme Sejak Dini

Perkembangan teknologi komunikasi sebagai bagian dari globalisasi yang terjadi dalam beberapa dekade belakangan telah berhasil ...
Read more 0